APLIKASI TEORI BELAJAR THORNDIKE PDF

Jika bermanfaat, Mohon di Share ya!. Pengertian Desain Pembelajaran Menurut Reigulth Bagi Reigulth, desain pembelajaran adalah kisi-kisi dari penerapan teori belajar dan pembelajaran untuk memfasilitasi proses belajar seseorang. Ia menyatakan bahwa pengembangan adalah penerapan kisi-kisi desain di lapangan. Kemudian setelah uji coba selesai, maka desain tersebut di perbaiki atau diperbaharui sesuai dengan masukan yang telah diperoleh. Reigulth menngkaji desain dan pengembangan pembelajaran berdasarkan tinjauan atas teori belajar dan pembelajaran. Menurut Rothwell Dan Kazanas Rothwell dan Kazanas merumuskan desain pembelajaran terkait dengan peningkatan mutu kinerja seseorang dan pengaruhnya bagi organisasi.

Author:Vinos Malmaran
Country:Greece
Language:English (Spanish)
Genre:Art
Published (Last):8 May 2015
Pages:386
PDF File Size:16.54 Mb
ePub File Size:16.64 Mb
ISBN:839-9-56901-302-7
Downloads:83286
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Gujas



Jika bermanfaat, Mohon di Share ya!. Pengertian Desain Pembelajaran Menurut Reigulth Bagi Reigulth, desain pembelajaran adalah kisi-kisi dari penerapan teori belajar dan pembelajaran untuk memfasilitasi proses belajar seseorang. Ia menyatakan bahwa pengembangan adalah penerapan kisi-kisi desain di lapangan. Kemudian setelah uji coba selesai, maka desain tersebut di perbaiki atau diperbaharui sesuai dengan masukan yang telah diperoleh.

Reigulth menngkaji desain dan pengembangan pembelajaran berdasarkan tinjauan atas teori belajar dan pembelajaran. Menurut Rothwell Dan Kazanas Rothwell dan Kazanas merumuskan desain pembelajaran terkait dengan peningkatan mutu kinerja seseorang dan pengaruhnya bagi organisasi. Bagi mereka, peningkatan kinerja berarti peningkatan kinerja organisasi. Desain pembelajaran melakukan hal tersebut melalui suatu model kinerja manusia. Rumusan Rothwell dan Kanazas ini bermanfaat jika desain pembelajaran diterapkan pada suatu pusat pelatihan di organisasi tertentu.

Mengembangkan konsep desain pembelajaran dengan menyatakan bahwa desain pemebelajaran membantu proses belajar seseorang, dimana proses belajar terjadi karena adanya kondisi-kondisi belajar internal maupun eksternal.

Kondisi internal adalah kemampuan dan kesiapan diri pebelajar, sedang kondisi eksternal adalah pengaturan lingkungan yang didesain. Penyiapan kondisi eksternal belajar inilah yang disebut mereka sebagai desain pembelajaran. Untuk itu, desain pembelajaran haruslah sistematis dan menerapkan konsep pendekatan system agar berhasil meningkatkan mutu kinerja seseorang. Mereka percaya bahwa proses belajar yang terjadi secara internal, dapat ditumbuhkan, diperkaya jika faktor eksternal, yaitu pembelajaran dapat didesain dengan efektif.

Umumnya pendekatan system terdiri atas analisis, desain, pengembagan, implementasi, dan evaluasi. Teori belajar, teori evaluasi dan teori pembelajaran merupakan teori-teori yang melandasi desain pembelajaran. Komponen Dasar Desain Pembelajaran Komponen dasar desain pembelajaran adalah: [5] 1.

Pebelajar Pebelajar adalah pihak yang menjadi fokus suatu desain pembelajaran. Informasi yang paling diperlukan untuk dilacak adalah karakteristik mereka, kemampuan awal atau prasyarat. Seluruh aspek yang berengaruh terhadap kesuksesan proses belajar harus dipertimbangkan dan dirumuskan pemecahan masalahnya. Tujuan Pembelajaran Umum dan Khusus Rumusan tujuan pembelajaran merupakan penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh pebelajar jika mereka telah selesai dan berhasil menguasai materi ajar tertentu.

Tujuan pembelajaran dalam lingkup besar dianggap sebagai tujuan umum, sedangkan tujuan yang dicapai untuk keahlian khusus yang dapat diamati disebut tujuan khusus.

Tujuan pembelajaran khusus acap kali disebut sebagai tujuan khusus. Tujuan pembelajaran khusus acapakali disebut sebagai tujuan khusus kinerja atau dengan istilah aslinya performance objectives. Analisis Pembelajaran Analisis pembelajaran adalah proses menganalisis topik atau materi yang akan dipelajari. Analisis topik dikaitkan dengan kemampuan awal, jika dibutuhkan. Dengan demikian, desainer dapat memperkirakan tahapan penguasaan materi dan kategorisasi materi itu sendiri.

Analisis pembelajaran dilakukan agar kendala belajar seperti tingkat kesulitan atau perilaku awal yang belum dikuasai dapat ditelusuri dan diantisipasi.

Strategi Pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah upaya yang dilakukan oleh perancang dalam menentukan teknik penyampaian pesan, penentuan metode dan media, alur isi pelajaran, serta interaksi antara pengajar dan peserta didik. Strategi pembelajaran dapat dikembangkan secara makro dan mikro. Strategi pembelajaran makro adalah strategi pembelajaran yang diterapkan untuk kurun waktu satu tahun, atau satu semester.

Sedangkan strategi pembelajaran mikro dikembangkan untuk satu KBM. Bahan Ajar Bahan ajar dalam desain pembelajaran adalah satu-satunya yang berwujud tabgible dari seluruh komponen dasar desain pembelajaran.

Bahan ajar adalah format materi yang diberikan kepada pebelajar. Format tersebut dapat dikaitkan dengan media tertentu. Handouts, atau buku teks, permainan dan sebagainya. Penilaian belajar evaluasi Penilaian belajar adalah tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi yang sudah dikuasai atau belum.

Penilain tidak hanya berkaitan dengan angka tertentu sebagai hasil belajar yang menunjukkan prestasi pebelajar. Penilaian adalah masukan bagi desainer dan guru agar mereka tahu apa yang harus dilakukan. Penilaian yang dilakukan sering dalam bentuk asesmen tes, baik yang bersifat objektif atau subjektif.

Sekolah di Indonesia jarang sekali menggunakan penilaian belajar nontes, seperti pengamatan atau survey. Padahal kedua jenis penilaian beljar saling mendukung satu sama lain dari hasil perolehan informasi keberhasilan belajar seseorang.. Kelemahan dari teori Thorndike yaitu: a Terlalu memandang manusia sebagai mekanisme dan otomatisme belaka disamakan dengan hewan. Meskipun hanya tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and eror.

Trial end eror juga tidak berlaku bagi manusia. Sehingga yang dipentingkan dalam belajar adalah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan-latihan, atau ulangan yang terus-menerus.

Yang terutama aktif adalah guru. Dialah yang melatih anak-anak dan menentukan apa yang harus diketahui oleh anak-anak. Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran PAI Pada saat menerapkan pendekatan koneksionisme perlu diperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran.

Oleh karena itu, dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran guru harus memperhatikan beberapa prinsip kegiatan pembelajaran[7], sebagai berikut: Berpusat pada siswa: Setiap siswa pada dasarnya berbeda, dan telahada dalam dirinya minat interest , kemampuan ability , kesenangan preference , pengalaman experience , dan cara belajar learning style yang berbeda antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya.

Begitu juga kemampuan siswa dalam belajar, siswa tertentu lebih mudah belajar dengan mendengarkan dan membaca, siswa lain dengan cara menulis dan membuat ringkasan, siswa lain dengan melihat, dan yang lain dengan cara melakukan belajar secara langsung.

Oleh karena itu guru harus mengorganisasikan kegiatan pembelajaran, kelas, materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, media dan sumber belajar dan cara penilaian yang di sesuaikan dengan karakteristik individual siswa.

Karenanya kegiatan belajar yang dikembangkan oleh guru harus mendorong siswa agar dapat mengembangkan potensi, bakat serta minat yang dimilikinya secara optimal dan maksimal. Pembalikan makna belajar: Dalam konsep tradisional belajar hanya diartikan penerimaan informasi oleh peserta didik dari sumber belajar dalam hal ini guru. Akibatnya pembelajaran sering diartikan merupakan transfer of knowledge. Dalam kurikulum bebasis kompetensi makna belajar tersebut harus dibalik dimana belajar diartikan merupakan proses aktivitas dan kegiatan siswa dalam membangun pengetahuan dan pemahaman terhadap informasi dan atau pengalaman.

Dan pada dasarnya proses membangun pengetahuan dan pemahaman dapat dilakukan sendiri oleh siswa dengan persepsi, pikiran entering behavior serta perasaan siswa. Konsekuensi logis pembalikan makna belajar dalam kegiatan pembelajaran menghendaki partisipasi guru dalam bentuk bertanya, meminta kejelasan, dan bila diperlukan menyajikan situasi yang bertentangan dengan pemahaman siswa dengan harapan siswa tertantang untuk memperbaiki sendiri pemahamannya. Konsekuensi lain dari pembalikan makna belajar ini, guru lebih banyak berperan membimbing siswa dalam belajar serta menempatkan diri sebagai fasilitator pembelajaran dengan menempatkan siswa yang harus bertanggung jawab dalam membangun pengetahuannya sendiri.

Belajar dengan melakukan: Pada hakikatnya dalam kegiatan belajar siswa melakukan aktivitas-aktivitas. Aktivitas siswa akan sangat ideal bila dilakukan dengan kegiatan nyata yang melibatkan dirinya, terutama untuk mencari dan menemukan serta mempraktekkannya sendiri. Dengan cara ini siswa tidak akan mudah melupakan apa yang diperolehnya dengan cara mencari dan menemukan serta mempraktekkan sendiri akan tertanam dalam hati sanubari dan pikirannya siswa karena ia belajar secara aktif dengan cara melakukan.

Dalam pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, materi sholat dan praktek ibadah yang lainnya akan efektif dan berkesan bagi siswa bila dipraktekkan secara langsung ketimbang dengan mengharuskan siswa untuk menghafal tatacara sholat atau ibadah yang lainnya.

Siswa sebaiknya dihadapkan pada situasi nyata yang sesungguhnya, kalau tidak mungkin dibuat situasi buatan dan bila tidak memungkinkan dapat dilakukan dengan audio-visual dengar-pandang dengan menggunakan film strif atau video casset atau CD. Mengembangkan kemampuan sosial, kognitif, dan emosional: Dalam kegiatan pembelajaran siswa harus dikondisikan dalam suasana interaksi dengan orang lain seperti antarsiswa, antara siswa dengan guru, dan siswa dengan masyarakat.

Dengan interaksi yang intensif siswa akan mudah untuk membangun pemahamannya. Guru dituntut untuk dapat memilih berbagai strategi pembelajaran yang membuat siswa melakukan interaksi dengan orang lain, misalnya dengan diskusi, sosiodrama, belajar secara kelompok dan sebagainya. Kegiatan pembelajaran yang dikembangkan guru harus mendorong terjadinya proses sosialisasi pada diri siswa mesingmasing, dimana siswa belajar saling menghormati dan menghargai terhadap perbedaan-perbedaan pendapat, sikap, kemampuan maupun prestasi.

Pembelajaran juga dikembangkan agar siswa mampu bekerjasama serta mampu mengembangkan empati sehingga siswa terdorong untuk saling membangun pengertian yang diselaraskan dengan pengetahuan dan tindakannya. Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah bertuhan: Siswa terlahir dengan memiliki rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah bertuhan.

Rasa ingin tahu dan imajinasi yang dimiliki siswa merupakan modal dasar untuk bersikap peka, kritis, mandiri, dan kreatif. Sedangkan fitrah bertuhan merupakan cikal bakal manusia untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Dengan pemahaman seperti di atas, maka kegiatan pembelajaran perlu mengembangkan dan memperhatikan rasa ingin tahu dan imajinasi siswa serta diarahkan pada pengesahan rasa keagamaan sesuai dengan tingkatan usia siswa Mengembangkan Keterampilan Pemecahan Masalah: Dalam kehidupan sehari-hari setiap orang akan dihadapkan kepada berbagai permasalahan yang harus dipecahkan.

Karenanya diperlukan keterampilan dalam memecahkan masalah. Untuk terampil dalam memecahkan masalah seseorang harus belajar melalui pendidikan dan pengajaran.

Salah satu tolak ukur keberhasilan belajar siswa banyak ditentukan oleh kemampuannya dan kecerdasannya dalam memecahkan masalah. Karena itu, dalam proses pembelajaran perlu diciptakan situasi yang menantang kepada siswa untuk mencari dan menemukan masalah, serta melakukan pemecahan dan mengambil kesimpulan. Agar siswa terampil memecahkan masalah guru dapat menggunakan pendekatan ketrampilan proses dalam kegiatan pembelajaran.

Dengan pendekatan keterampilan proses siswa diarahkan untuk dapat memperoleh ketrampilan dasar pemecahan masalah yaitu: mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan dan mengkomunikasikan.

Disamping ketrampilan dasar pemecahan masalah siswa diharapkan juga memperoleh keterampilan pemecahan masalah secara terintregasi yang meliputi: mengidentifikasi variabel, mendefinisikan variabel secara operasional, menyusun hipotesis, mengumpulkan dan mengolah data, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk distribusi frekuensi, grafik histogram atau poligon, menghubungkan antar variabel, analisis terhadap data penelitian, merancang penelitian serta melakukan atau melaksanakan percobaan.

Mengembangkan kreatifitas siswa: Siswa memiliki potensi untuk berbeda. Perbedaan siswa terlihat dalam pola berfikir, daya imanjinasi, fantasi pengandaian dan hasil karyanya. Karena itu, kegiatan pembelajaran perlu dipilih dan di rancang agar member kesempatan dan kebebasan berkreasi secara berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kreatifitas siswa. Kreativitas siswa merupakan kemampuan mengkombinasikan atau menyempurnakan sesuatu berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang sudah ada.

Secara lebih luas kreativitas merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam menghasilkan komposisi, produk atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatannya. Hasil kreativitas dapat berbentuk produk seni, kesusastraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat prosedural atau metodologis. Pembelajaran yang menuntut siswa berfikir kreatif, yaitu kemampuan-berdasarkan data dan informasi yang tersedia menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah di mana penekanannya adalah kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban.

Ciri-ciri pembelajaran yang mendorong kreativitas seseorang sebagai berikut: timbul dorongan rasa ingin tahu yang besar, tertarik terhadap tugas-tugas yang majemuk yang dirasakan sebagai tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau dikritik oleh orang lain, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, mempunyai rasa humor, ingin mencari pengalaman-pengalaman baru, dapat menghargai baik diri sendiri maupun orang lain, dan sebagainya. Mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi: Ilmu pengetahuan dan teknologi terus mengalami perkembangan dan penyempurnaan.

Ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia dalam menjalankan kehidupannya. Agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah diproduksi manusia dapat dimanfaatkan oleh manusia pada umumnya serta siswa pada khususnya, siswa perlu mengenal dan mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi sejak dini, serta tidak gagap terhadap perkembangan ilmu dan teknologi.

Dengan demikian kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberikan kesempatan dan peluang kepada siswa memperoleh informasi dari sumber belajar dan media pembelajaran yang menggunakan teknologi. Siswa juga diarahkan untuk mengenal dan mampu menggunakan multi media yang dapat digunakan dalam penyajian materi pembelajaran.

Salah satu cara yang dapat digunakan agar siswa mengenal dan mampu menggunakan teknologi adalah dengan cara memberikan tugas yang mengharuskan siswa berhubungan langsung dengan teknologi, misalnya membuat laporan tentang materi tertentu dari televisi, radio, atau bahkan internet. Atau mempresentasikan tugas yang telah dengan menggunakan minimal OHP dan bila memungkinkan menggunakan kamera in focus. Pada desain pembelajaran ini saya mengambil dasar dari teori yang diungkapkan oleh Thorndike yang disebut dengan koneksionisme.

Hukum-hukum Utama Mayor Thorndike menyimpulkan beberapa prinsip dan hukum-hukum yang dapat mengikhtisarkan proses belajar. Di dalam teori koneksionisme seseorang dapat menyatakan bahwa latihan dapat menguatkan ikatan atau hubungan.

EASYCAR E8 B PDF

Teori Belajar Thorndike

Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita semua memahami proses inhern yang kompleks dari belajar. Ada tiga perspektif utama dalam teori belajar, yaitu Behaviorisme, Kognitivisme, dan Konstruktivisme. Yang lebih penting untuk kita pahami adalah teori mana yang baik untuk diterapkan pada kawasan tertentu, dan teori mana yang sesuai untuk kawasan lainnya. Pemahaman semacam ini penting untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam rangka meningkatkan kemampuan pendidik, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi mereka sebagai pengajar.

EFRAIN HERNANDEZ XOLOCOTZI PDF

"jurnal teori belajar thorndike"

Sebelum membahas tentang teori belajar dari Thorndike, sangat penting untuk mengenal siapa tokoh yang memunculkan teori tersebut. Teori koneksionisme adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edwar L. Thorndike berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun an. Eksperimen ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar. Thorndike belajar belajar pada hewan biasanya kucing. Dia menyusun eksperimen klasik di mana dia menggunakan kotak puzzle lihat gambar 1 untuk menguji secara empiris hukum pembelajaran.

Related Articles